Hidup Untuk Berbagi

“Life Skills” untuk Semua Siswa

“Life Skills” untuk Semua Siswa

“Sudah saatnya orientasi pendidikan siswa tidak hanya pada pendidikan akademik. Pendidikan kejuruan yang mengedepankan ’life skill’ sudah seharusnya dikembangkan, bahkan diperkenalkan sejak di bangku sekolah dasar.” Kutipan di samping mengawali sebuah berita di halaman pertama Pikiran Rakyat edisi 4 Desember 2007. Tersirat di dalamnya pandangan bahwa life skills adalah milik pendidikan kejuruan, sedangkan pendidikan umum hampa life skills. Benarkah demikian? Para pemikir pendidikan menyadari benar bahwa pendidikan haruslah berorientasi pada kehidupan. Memperoleh pekerjaan yang memberikan penghasilan adalah keperluan hidup manusia. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibekali pendidikan dengan keterampilan-keterampilan yang memungkinkan mereka menjalankan pekerjaannya dengan baik. Pendidikan kejuruan dimaksudkan untuk memberi peserta didik keterampilan khas untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu. Apakah penguasaan keterampilan bekerja saja cukup bagi seseorang untuk mengarungi kehidupan? Menjelang akhir abad ke-20, muncul persoalan, pendidikan seperti apa yang tepat untuk abad ke-21 yang akan segera tiba? Salah satu pihak yang merasa berkepentingan untuk menjawab persoalan tersebut adalah UNESCO. Badan dunia ini membentuk Komisi Internasional tentang Pendidikan untuk abad ke-21 dengan Ketua Jacques Delors, mantan Menteri Perekonomian dan Keuangan Prancis. Laporan Komisi dengan judul “Learning: The Treasure Within” diterbitkan di tahun 1996 adalah Komisi yang memperkenalkan istilah “empat pilar pendidikan” yang cukup dikenal kalangan pendidikan di Indonesia. Sebelum menjawab persoalan tersebut, perlu diperoleh sebuah gambaran tentang kehidupan di abad ke-21. Dalam kaitan ini, hendaknya dipahami bahwa dunia ditentukan juga oleh manusia yang mendiaminya, sehingga selain meramalkan kecenderungan perkembangan, kita juga perlu memiliki persepsi tentang dunia ideal. Delors mengawali pengantar laporan Komisi dengan pernyataan: “Dalam menghadapi beragam tantangan masa depan, manusia melihat pendidikan sebagai aset yang mutlak perlu dalam usahanya untuk mencapai cita-cita perdamaian, kemerdekaan, dan keadilan sosial.” Komisi kemudian melihat bahwa abad ke-21 akan dipenuhi dengan tarik-menarik antara dua kutub dalam berbagai dimensi, tiga di antaranya adalah global lokal, tradisional modern, dan spiritual material. Untuk dapat mengambil posisi dalam dunia seperti itu, keterampilan bekerja saja tentu tidak cukup. Dalam kaitan ini, Komisi juga mengenal istilah life skills sebagai satu dari banyak tuntutan kehidupan. Komisi memahami pengertian life skills sebagai kualitas-kualitas sangat subjektif yang mencakup antara lain kemampuan berkomunikasi, bekerja bersama orang lain, serta mengelola, dan menyelesaikan konflik. Pada tahun 1997, institusi akademisi di Amerika Serikat (terdiri atas Akademi Sains, Akademi Keinsinyuran, dan Institut Medis) menerbitkan sebuah kumpulan dokumen berjudul “Preparing for the 21st Century” sebagai rekomendasi kepada pemerintah AS. Salah satu dokumen, “Education Imperative”, secara khusus membahas kebijakan pendidikan yang perlu diambil. Para akademisi tersebut melihat bahwa kehidupan di abad ke-21 menuntut perlunya kemampuan untuk berpikir kritis tentang dunia ini dan untuk mengambil keputusan cerdas berdasarkan informasi dalam isu-isu pribadi dan kemasyarakatan. Tentang dunia kerja, mereka menyatakan bahwa pekerjaan yang bersifat mekanis rutin akan diambil alih oleh peranti berbasis komputer. Akibatnya, akan lebih banyak pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tingkat tinggi yang membutuhkan kemampuan-kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, mengemukakan gagasan, dan bekerja sama. Keniscayaan apa yang dituntut pada pendidikan? … all Americans must have a solid education in science, mathematics, and technology? Setiap warga Amerika Serikat harus memperoleh pendidikan yang kokoh dalam sains, matematika, dan teknologi. Pandangan serupa tentang dunia kerja juga diambil oleh Komisi Delors. Mereka menyatakan, “Di industri, …tugas-tugas yang sepenuhnya fisik digantikan oleh pekerjaan yang lebih intelek, lebih bersifat mental, seperti mengontrol, merawat, dan memonitor mesin, serta oleh pekerjaan perancangan, pengajian, dan pengorganisasian.” Dari pandangan Komisi Delors dan para akademisi Amerika Serikat di atas, jelaslah bahwa kehidupan memerlukan keterampilan yang lebih luas daripada sekadar keterampilan bekerja. Jelas juga bahwa sektor pendidikan, umum, dan kejuruan bertanggung jawab untuk menumbuhkan keterampilan yang lebih luas itu. ** Kesan bahwa pendidikan umum di Indonesia tidak mengedepankan life skills tampaknya tumbuh dari pengamatan terhadap kenyataan di lapangan. Pengajaran di sekolah umum lebih banyak menekankan kepada pengetahuan sekadar untuk diketahui. Praktik tersebut sungguh jauh dari apa yang diajukan oleh Komisi Delors ketika menjelaskan pilar learning to know. Jenis belajar ini seharusnya lebih menyangkut penguasaan instrumen pengetahuan ketimbang pemerolehan informasi yang sudah diolah. Selain dari usaha-usaha untuk memberikan arah bagi pendidikan di abad ke-21, kita juga dapat menjumpai usaha-usaha untuk menilai apakah pelaksanaan pendidikan sudah sesuai dengan arah tersebut. Pada tanggal 4 Desember itu juga, Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) memublikasikan laporan Programme in International Student Assessment (PISA) 2006. PISA adalah sebuah survei tiga tahunan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa siap generasi muda sekarang untuk hidup dalam masyarakat yang berlandaskan pengetahuan. Sasaran survei adalah siswa usia 15 tahun, yaitu usia menjelang akhir masa wajib belajar. Survei difokuskan kepada kemampuan anak-anak tersebut dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk menjawab tantangan kehidupan nyata. Dengan demikian, PISA mengukur tingkat melek (literacy), bukan hanya tingkat pengetahuan siswa. Ada tiga wilayah yang dicakup PISA, yaitu membaca, matematika, dan sains. Setiap wilayah bergiliran dikaji mendalam sebagai bidang fokus PISA. Fokus PISA 2006 adalah sains, setelah membaca pada PISA pertama tahun 2000 dan matematika pada PISA 2003. Selain negara anggota OECD, PISA juga melibatkan negara-negara mitra, di antaranya Indonesia dengan sekitar 10.000 siswa yang berpartisipasi. PISA mengklasifikasi pencapaian siswa ke dalam sejumlah tingkatan, yaitu lima untuk membaca dan masing-masing enam untuk matematika dan sains. Sebagai gambaran, kita lihat kemampuan untuk tingkatan I (terendah) dan tingkatan tertinggi untuk ketiga wilayah. Kemampuan sains pada tingkatan 6 mencakup antara lain kemampuan mengidentifikasi, menjelaskan, dan menerapkan pengetahuan sains dan pengetahuan tentang sains dalam berbagai situasi kehidupan yang kompleks. Sebagai kontras, siswa pada tingkatan 1 hanya memiliki pengetahuan sains terbatas yang hanya dapat diterapkan pada sedikit situasi yang sudah dikenal. Kemampuan membaca pada tingkatan 5 mencakup antara lain kemampuan menemukan dan menggunakan informasi yang sulit didapat dalam wacana yang asing. Pada tingkatan 1, siswa dapat menemukan sepotong informasi, mengidentifikasi tema utama suatu wacana, atau membuat kaitan sederhana dengan pengetahuan sehari-hari. Untuk mencapai tingkatan 6 dalam matematika, siswa dituntut untuk mampu membangun konsep dari menggeneralisasi dan menggunakan informasi yang diperoleh dari penyelidikan dan pemodelan yang ia lakukan terhadap situasi masalah yang kompleks. Namun, untuk mencapai tingkatan 1, cukup ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam konteks yang sudah dikenalnya di mana semua informasi yang relevan telah tersedia dan pertanyaannya sudah dirumuskan dengan jelas. Bagaimana pencapaian siswa Indonesia dalam PISA 2006? Untuk sains, siswa Indonesia yang mencapai tingkatan 5 atau 6 dapat diabaikan secara statistik, sedangkan 61,6% siswa berada pada tingkatan 1 ke bawah, termasuk sekitar 20% yang bahkan tidak mencapai tingkatan 1. Dalam hal membaca, 0,1% mencapai tingkatan 5, tetapi hampir 60% berada pada tingkatan 1 ke bawah, termasuk 21,8% di bawah tingkatan 1. Pada matematika, siswa Indonesia yang mencapai tingkatan 6 kembali dapat diabaikan secara statistik, sementara 65,7% berada pada tingkatan 1 ke bawah, termasuk 35,2% berada di bawah tingkatan 1. Pencapaian tersebut sebetulnya membaik. Bandingkan dengan PISA 2003, di mana lebih dari tiga perempat siswa Indonesia berada pada tingkatan 1 ke bawah dalam matematika, termasuk sekitar separuh yang tidak mencapai tingkatan 1. Akan tetapi, hasil tersebut sungguh memprihatinkan bila dibandingkan dengan negara lain. Thailand misalnya, masih mempunyai 0,4% siswa yang berada pada tingkatan 5 atau 6 dan 12,6% siswa di bawah tingkatan 1 dalam sains. Pada membaca dan matematika pun, pencapaian Thailand juga lebih baik daripada kita. Belum lagi kalau kita bandingkan dengan negara-negara puncak, seperti Finlandia (dengan 20,9% siswa pada tingkatan 5 atau 6 dalam sains), Korea (21,7% siswa pada tingkatan 5 dalam membaca) atau Cina Taipei (11,8% siswa pada tingkatan 6 matematika). Para peneliti PISA memperkirakan bahwa siswa-siswa yang berada di bawah tingkatan 1 akan menghadapi kesulitan serius untuk mengambil manfaat dari pendidikan lanjutan dan kesempatan belajar serta untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan bermasyarakat dan berekonomi. Dengan memerhatikan tingginya porsi siswa Indonesia dalam kelompok tersebut, tindakan-tindakan efektif secara sistematis perlu dilakukan oleh semua pemangku kepentingan dunia pendidikan Indonesia. Penuntasan wajib belajar hendaknya tidak terpaku kepada lamanya masa wajib belajar ataupun pemenuhan angka partisipasi, melainkan sungguh-sungguh berorientasi kepada pengembangan life skills dalam pengertian seluas-luasnya pada diri setiap siswa. Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan agar pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat (pasal 4 ayat 5). Dalam kaitan ini ada baiknya kita renungkan pernyataan para peneliti pendidikan di Amerika Serikat berikut ini: In the early part of the twentieth century, education focused on the acquisition of literacy skills: simple reading, writing, and calculating. It was not the general rule for educational systems to train people to think and read critically, to express themselves clearly and persuasively, to solve complex problems in science and mathematics. Now, at the end of the century, these aspects of high literacy are required of almost everyone in order to successfully negotiate the complexities of contemporary life (John D. Bransford, et.al. (eds.), How People Learn, Expanded Edition, 2000).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s